|
Yogyakarta-Komnews, Menurut salah satu Kepala Seksi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( BAPPEDA ) Kabupaten Pegunungan Bintang,” Kepala Bappeda, Ir.Michael A.E.Mantiri, M.Si telah di-nonjobkan pada bulan november 2013 karena telah melalaikan tugasnya sebagai seorang kepala Bappeda, ungkapnya melalui telepon seluler, sabtu (18/01/14).
Lanjutnya, semenjak Ir.Michael A.E.Mantiri, M.Si menggantikan kepala Bappeda yang lama Drs.Waryono,M.Si, diri jarang ke kantor ataupun mengikuti pertemuan yang diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang. Maka dari itu, Bupati Pegunungan Bintang, Drs.Welington.L Wenda, M.Si telah memberhentikan jabatannya sebagai Kepala Bappeda. Didalam surat pemberhentian, Michael A.E.Mantiri diberhentikan pada bulan November tetapi berhenti beraktivitas dilingkungan Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang pada bulan desember 2013. Selain itu, seluruh Dinas, Badan, Bagian dan Distrik yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang belum menerima DPA karena belum ada yang menempati posisinya, sehingga para PNS tidak bisa melaksanakan kegiatan MUSREMBANG untuk membahas Rencana Kerja Satu Tahun Anggaran ( RENJA 2014 ). Dampaknya aktivitas di kabupaten sangat disayangkan karena lumpuh total, ungkapnya.
Menurut pengakuan Kepala Seksi bidang Ekonomi di Bappeda, sekarang
para pegawai negeri sipil belum menerima gaji bulan januari 2014 karena
Kepala Bappeda belum menandatangani SP2D sebagai dasar untuk mencairkan
dana. Para staf pegawai Bappeda
sekarang menjadi korban karena ulanya pimpinan mereka. Yang akan
menempati posisi Kepala Bappeda belum ditentukan sampai dengan sekarang
ini, sehingga para kepala-kepala bidang, seksi serta staf Bappeda masih menunggu keputusan dari Bupati selaku penentu keputusan. Dengan demikian, Renja-Renstra pada tahun 2014 belum dibahas dalam MUSREMBANG Kabupaten.
Lanjutnya, pada masa jabatannya Michael A.E.Mantiri, program pembangunan yang dirancangnya sangat bagus, tetapi dilapangan tidak terealisasikan dengan baik, sehingga program yang beliau rancang tidak ada yang berhasil dibandingkan dengan mantan kepala Bappeda yang lama. Itulah kenyataan yang kami lihat pada masa jabatannya sebagai kepala Bappeda kabupaten Pegunungan Bintang, ungkapnya.
Tugas pokok dari Bappeda setiap tahun, diantaranya Musrembang, Monitoring Lapangan dan Monitoring Meja. Tujuan monitoring lapangan adalah untuk mengevaluasi kegiatan yang dilakukan oleh setiap Dinas, Badan, Bagian dan Distrik. Bappeda
sebagai badan perencanaan pembangunan daerah selalu melakukan
pemeriksaan disetiap sektor baik ditingkat distrik maupun ditingkat
kabupaten untuk memastikan bahwa program yang dirancang sudah dilaksanakan dengan baik. Sedangkan tujuan monitoring meja adalah mengevaluasi kembali hasil rancangan program kerja direncanakan oleh setiap Dinas, Badan, Bagian dan tingkat Distrik. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Bappeda, kemudian menghadirkan setiap Dinas, Badan, Bagian dan Kepala Distrik, dengan maksud untuk memastikan program-program yang sudah berjalan maupun belum diselesaikan dilaksanakan sebelum mengadakan Musrembang kabupaten.
Ada dua jenis Musrembang yaitu Musrembang kabupaten dan Musrembang distrik. Musrembang distrik adalah Bappeda langsung mengambil data di tingkat distrik. Sedangkan Musrembang kabupaten adalah membahas seluruh rancangan program kerja yang direncanakan oleh setiap Dinas, Badan, Bagian dan tingkat Distrik, yang dilaksanakan pada tahun anggaran yang baru.
Menurut
informasi yang dihimpun dari internal Bappeda, awal tahun 2013-2014
belum ada tanda-tanda untuk melaksanakan kegiatan Musrembang karena
kepala Bappeda yang baru belum dilantik secara resmi oleh Bupati. Para
staf di Bappeda belum melakukan aktivitas kantor sebagaiman mestinya
karena masih menunggu pimpinannya yang baru.
|
Selamat mengunjungi blogger saya,semoga tulisan saya dapat membantu dan melengkapi tulisan saudara sekalian
Selasa, 04 Februari 2014
KEPALA BAPPEDA KABUPATEN PEGUNUNGAN BINTANG DI-NONJOBKAN
HASIL PERTEMUAN PEMERINTAH DAERAH. MAHASIWA PELAJAR DAN MITRA PENDIDIKAN
Yogyakarta-Komnews, Menanggapi surat
seruan kasi Forum Peduli Pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang,
pemerintah daerah dari kalangan eksekutif dan legislative membentuk tim
dan mengunjungi mahasiswa di Yogyakarta. Dari Kalangan eksekutif yang
hadir adalah Wakil Bupati, Kabag Keuangan, Kepala Bappeda dan
anggotanya, Kepala Dinas P&P, dan
bendahara umum. Sedangkan dari legislatif yang hadir adalah Ketua DPRD,
Ketua Komisi Pendidikan, Ketua Komisi Anggaran dan 4 anggota DPRD
lainnya. Diskusi tersebut dilaksanakan di Wisma Prambanan Yogyakarta,
senin (22/07/13). Sejumlah agenda yang dibicarakan, terutama mengenai
persoalan-persoalan yang dihadapi mitra kerja sama pendidikan yang
berdampak langsung juga terhadap studi mahasiswa dan pelajar
Pegunungan Bintang di Jawa.
Sesi pertama mitra kerja sama, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sanata Dharma, Yayasan Binterbusih menyampaikan laporan perkembangan mahasiswa dan kendala-kendala yang sering alami. Dari ketiga mitra kerja sama tersebut menemuai kendala yang sama yaitu, komunikasi dengan pemerintah sangat minim. Dimana setiap kali pengiriman surat tidak pernah dibalas, telp tidak diangkat dan sms tidak balas. Akhirnya timbulnya persoalan-persoalan seperti keterlambatan pengiriman uang, kurangnnya fungsi kontrol dari pemerintah dll.
Sesi kedua perwakilan mahasiswa, pelajar dan
Ketua Forum Peduli Pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang
menyampaikan persoalan yang sering dialami. Melkior Sitokdana
menyampaikan materi tentang pembangunan sumber daya manusia Pegunungan
Bintang melalui kerja sama mitra pendidikan, menjelaskan tentang kebijakan
pemerintah daerah sejak tahun 2003 hingga 2013. Menurutnya pengiriman
mahasiswa dan pelajar ke mitra kerja sama berhenti ketika pergantian
kepemimpinan Welington Jilid II, mulai tahun 2011 tidak ada pengiriman.
Kemudian dilanjutkan lagi Agustinus Uropka mewakili mahasiswa
Universitas Sanata Dharma, Menurutnya keterlambatan pengiriman uang yang
sering terjadi secara langsung menggangu konsentrasi belajar
mahasiswa. Kemudian secara langsung mengkritik perilaku Kabag Keuangan
dan Bendahara Umum yang sering tidak bekerja secara professional.”Kabag
keuangan dan bendahara sangat sulit untuk dihubungi, bahkan persoalan
ini terjadi karena ulah mereka”, katanya.
Perwakilan
mahasiswa dari Surya Institut, Salmon Kasipmabin menyampaikan
persoalan-persoalan yang dihadapi selama mereka kuliah di Surya
Institut, dimana sejak pengirimannya pemerintah seolah-olah lepas
tangan, tidak ada perhatian yang serius. Bahkan mereka pernah mengirim
proposal ke pemerintah daerah terkait uang biaya hidup tetapi belum ada
jawaban hingga sekarang. Menurutnya, kami yang di Surya Institute semua
dari ilmu eksata, untuk itu kami butuh uang untuk membeli perlengkapan
alat uji, karena ilmu eksata itu butuh pembuktian. Kami berkomitmen
apabila tidak ada tanggapan dari pemerintah sampai kami menyelesaikan
kuliah maka kami tidak akan mengabdi di Pegunungan Bintang, tegasnya.
Perwakilan
dari UP4B, menyampaikan berbagai hambatan yang dihadapi, menurutnya
mereka dikirim ke kota studi masing-masing diseluruh Indonesia. Mereka
hanya diberi 5.000.000 dan selanjutnya tidak pernah ada pengiriman uang
dari pemerintah daerah. Sudah 1 tahun kami tidak pernah mendapat bantuan
dari pemerintah daerah sehingga kami mengalami kesulitan uang makan dan
tempat tinggal, sedangkan kuliah dibayar langsung dari Dikti.
Sebenarnya UP4B ditanggani oleh dinas pendidikan kabupaten tetapi sampai
sekarang belum ada kejelasan. Pernah berkomunikasi dengan bendahara dinas pendidikan, dan pernah dia minta no rekening tetapi sampai sekarang belum dikirim, katanya.
Perwakilan
pelajar, Paskalis Sanding Pom Kasipmabin menyampaikan beberapa hal,
berharap pemerintah secara kontiniu mengirim pelajar ke Semarang, perlu
kunjungan langsung ke Semarang untuk melihat langsung aktivitas pelajar.
Menurutnya, mulai tahun 2009 pemerintah belum pernah ada kunjungan ke kota studi Semarang. Uropbob dari Eksekutif dan Legislatif perlu
disadari bahwa; Paul Sudiyo (Direktur Binterbusih) itu orang
Yogyakarta, tetapi demi orang Papua di biasa gadai rumah dan mobil untuk
membiyai mahasiswa dan pelajar Pegunungan Bintang, ujarnya dengan nada
tegas.
Atas dasar sejumlah persoalan yang ada, mahasiswa dan pelajar secara langsung menyampaikan pernyataan sikap; menuntut pemerintah daerah memperjelas dana pendidikan kabupaten Pegunungan Bintang dari tahun 2009-2013. Mendesak untuk melunasi
utang-utang (di universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta, Yayasan Binterbusih, dan Surya Institut) yang
selama ini yang digunakan oleh mahasiswa Pegunungan Bintang untuk
membiayai kuliah, biaya hidup, biaya tempat tinggal, dan biaya kesehatan
selambat-lambatnya akhir bulan juli 2013.
Apabila dalam bulan juli tidak ditanggapi oleh pemerintah daerah
Kabupaten Pegunungan Bintang, maka seluruh masyarakat Pegunungan Bintang
akan mengambil langkah konkrit ditingkat pusat maupun daerah, termasuk
aksi demo besar-besaran di Oksibil. Mendesak pemerintah daerah memberikan beasiswa penuh kepada semua mahasiswa Pegunungan Bintang di seluruh Indonesia. Mendesak untuk menggantikan jabatan Sekda, Bendahara Umum, Kepala Dinas Pendidikan, Kabag Keuangan dengan orang yang kompeten, jika tidak diganti maka Bupati Pegunungan Bintang harus mundur secara terhormat. Mendesak menggantikan anggota DPRD Kabupaten Pegunungan Bintang yang membidangi Komisi Pendidikan dengan orang yang kompeten.
Sesi
ketiga, Wakil Bupati menyampaikan berbagai pokok pemikiran tentang
pengembangan Sumber daya manusia melalui pendidikan formal. Menurutnya,
sekarang fokus membenahi pendidikan dari dasar, itulah alasan tidak
mengirim mahasiswa ke mitra kerja sama. Kemudian beliau mengkritisi isi
surat yang ditujuhkan kepada seluruh orang Aplim Apom. Menurutnya surat
tersebut sangat tidak beretika, terlalu keras dan beberapa tulisan yang
tidak sesuai dengan realita yang terjadi. Terutama isi surat yang
menyatakan, “Wakil
Bupati sangat jarang ada di Oksibil, selalu keluar ke Jayapura-Jakarta
dan Jayapura-Papua New Gunea, entah urusan daerah atau urusan pribadi”,
beliau membantah pernyataan tersebut. Dengan tegas wakil bupati
mengatakan, selama 2 tahun terakhir selalu berada di Oksibil, katanya.
Kemudian beliau menyampaikan terima kasih kepada mitra kerja sama
pendidikan, “terima kasih Bapak dan Ibu dapat membimbing anak-anak
kami”, ucapnya. Kemudian menanggapi pernyataan sikap dari mahasiswa,
beliau mangatakan dengan tegas bahwa tidak akan ada lagi yang namanya
utang dengan mitra kerja sama pendidikan, kemudian mengenai tuntutan
pergantian beberapa jabatan struktural tersebut, beliau mengatakan bahwa
tidak segampang yang dipikirkan mahasiswa, semua itu butuh waktu yang
lama dan dilakukan sesuai dengan mekanisme yang berlaku, katanya.
Ketua
DPRD menjawab tuntutan mahasiswa, dimana tuntutan tentang menuntut DPRD
membuat dan mengesahkan Perda tentang harga barang. Ketua DPRD
mengatakan, tidak mungkin buat perda tentang harga barang dan jasa,
karena harga barang dan jasa selalu berubah setiap saat, katanya.
Kemudian beliau menyetujui akan diberlakukan beasiswa penuh kepada
mahasiswa Pegunungan Bintang seluruh Indonesia. Beliau mengatakan,
setelah pulang ke daerah akan membahas tuntutan tersebut, karena dinilai
sangat bagus untuk di terapkan. Lanjut, dana pendidikan yang selalu
didengung-dengungkan 20% tersebut, memang bunyinya seperti itu tetapi
sampai di daerah tidak sudah terbagi-bagi ke berbagai sektor, dan dana
yang digunakan untuk membiyai mahasiswa melalui mitra kerja pendidikan adalah bersumber dari dana hibah, katanya.
Menurut Ketua Bappeda, untuk pembangunan sumber daya manusia Pegunungan Bintang telah dibentuk Tim Pembangunan Sumber Daya Manusia Pegunungan Bintang.
Tim tersebut ada untuk mempersiapkan manusia yang utuh. Beliau juga
mengatakan, dana untuk pengembangan sumber daya manusia disemua SKPD ada, tinggal kelolah dengan tepat pasti akan lebih baik. Menanggapi IPM Untuk
di Papua, kabupaten Pegunungan Bintang masih dibawah Kabupaten Dogiyai
dan Lanny Jaya padahal kedua kabupaten tersebut dibentuk pada tanggal
4 Januari 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2008. Kepala
Bappeda mengatakan bahwa; IPM butuh pembangunan yang sinergis, IPM tidak
bisa dilihat dari sisi pendidikan tetapi dari semua sisi, baik dari sisi ekonomi, kesehatan, pendidikan, sosial budaya, infratruktur, dsb. Semua itu harus saling teritegrasi sehingga menciptakan manusia yang seutuhnya, katanya.
Mewakili
alumni dan senioritas Komapo, Spey Bidana, ST, M.Si mensharing
pengalamannya ketika studi di Yogyakarta. Menurutnya, dulu hidupnya
susah karena tidak dapat bantuan dari pemerintah seperti sekarang. Dulu
saya dapat beasiswa 200.000 /perbulan, uang tersebut saya membayar
uang kos, membeli buku, print-print tugas, biaya lab, membeli makanan
dana, membayar ongkos taksi, dsb, katanya. Beliau menyangkan mahasiswa
sekarang yang banyak dapat dana dari berbagai sumber tetapi tidak diatur
dengan Baik. “Sumber pendapatan mahasiswa sekarang ada 3; yang pertama
sumber daya pemerintah, yang kedua dari orang tua dan yang ketiga dari
teman-teman dekat”. Dana banyak tetapi mahasiswa selalu mengeluh untuk uang. Berharap mahasiswa dan pelajar harus sadar dan semua dana yang ada dikelolah dengan baik , tegasnya.
Kabag
Keuangan, Marthen Manurung menjelaskan berbagai alasan mengapa dia
tidak cepat mengeluarkan uang. Menurutnya dana harus dikeluarkan
hati-hati karena kalau salah bisa berakibat fatal. Selama ini
pengelolahan keuangan untuk daerah baru seperti Pegunungan Bintang kita
masuk kategori terbaik, katanya. Menanggapi keluhan mahasiswa dan mitra
kerja sama tentang telpon dan sms dari mereka tidak biasa dibalas,
beliau mengatakan mahasiswa yang telpon saya tidak angkat karena mereka
selalu minta-minta uang. Sebenarnya kami bisa memberi uang tetapi
pertanggunjawaban terhadap negera bagaimana? kalau peruntukkannya tidak jelas. Kemudian beliau menepis pernyataan lembaga kerja sama, menurutnya selalu menerima telpon dan balas smsnya dari mitra kerja sama, katanya.
Selelah
diskusi dengan mahasiswa, pemerintah daerah dan mitra kerja sama
bertemu secara tertutup, membicarakan segala persoalan yang selama ini
terjadi serta keputusan-keputusan dilakukan untuk memperbaiki sejumlah
persoalan-persoalan yang selama ini tidak berjalan baik. Pemerintah
daerah telah berencana akan mengunjungi seluruh kota studi di seluruh
Indonesia untuk menyamakan konsep untuk pembangunan pendidikan
Pegunungan Bintang. Diselah-selah diskusi Tim Pembangunan Sumber Daya Manusia Pegunungan Bintang meminta mahasiswa membuat konsep pembangunan sumber daya manusia. (Mecko)
Langganan:
Postingan (Atom)